Arti dan Madzhab Tentang Hukum Qunut

Arti dan Madzhab Tentang Hukum Qunut - Dalam pelaksanaan sholat fardhu maupun pelaksanaan sholat sunnat, ada bacaan-bacaan yang tidak boleh ditinggalkan karena akan menentukan syah dan tidaknya pelaksanaan sholat tersebut. Ada yang apabila bacaan yang menjadikan syah tidaknya pelaksanaan sholat disebut rukun sholat. Sementara itu bacaan dan tata cara yang di luar rukun sholat, bersifat sunnah yang tentu saja tidak menjadi apa-apa ketika ditinggalkan. Dengan demikian apabila ada rukun sholat yang sengaja ditinggalkan, akan menyebabkan pelaksanaan sholat tidak syah. Sementara itu apabila bacaan atau tata cara sholat yang masuk ke dalam kategori rukun sholat tersebut tidak sengaja ditinggalkan seperti lupa misalnya, diharuskan menggantinya dengan sujud syahwi.

Arti Qunut Dan Macamnya

doa qunut subuh
Sebelum membicarakan tentang hukum qunut, ada baiknya kita mengenal lebih dulu maksud atau artinya. Yang dimaksud dengan qunut adalah suatu doa yang diucapkan sewaktu melakukan shalat subuh serta isya secara berjamaah. Sedangkan istilah qunut asalnya dari perkataan qanata yang artinya adalah patuh mengabdi kepada ALLAH SWT.

Doa qunut ini terdiri dari dua macam. Pertama, qunut yang hanya ditujukan kepada Allah ketika ada malapetaka atau bencana maupun mendapat serangan musuh. Maksud dari pengucapan doa ini adalah untuk memohon agar setiap orang kafir atau musuh yang melakukan kejahatan mendapat hukuman yang setimpal dari Allah. Sedangkan qunut yang kedua adalah doa yang berupa permohonan kepada Allah agar selalu mendapat keselamatan dari segala macam bahaya ketika melakukan pertempuran.

Ada sebagian ulama yang mewajibkan bacaan qunut subuh ini dan ada juga yang tidak mewajibkan. Tentu saja semua itu berdasarkan pada berbagai dalil maupun mahzab masih dikaji keshohihannya/kebenaran akan sumber tatacara dan hukum bacaan qunut subuh ini.  Dalam pelaksanaannya pun bacaan qunut subuh ini tidak diwajibkan maupun dilarang untuk dibaca saat sholat subuh. Sebenarnya bacaan qunut shubuh termasuk kepada masalah furuiyah atau cabang agama yang seringkali manjadi bahan perbenturan antara satu mazhab dengan mazhab lain, antara satu golongan dengan golongan. Sementara apabila merujuk pada kebanyakan dalil, bacaan qunut subuh tersebut tidak termasuk ke dalam rukun sholat.

Namun yang terjadi di masyarakat justru berbeda. Dengan demikian akibat dari perbedaan mempersepsikan bacaan qunut subuh ini seringkali dua kelompok yang berbeda, tidak bisa menyatukan diri. Hal inilah yang masih terjadi di masyarakat muslim Indonesia sampai sekarang yaitu golongan yang membaca qunut subuh tetap merasa paling benar dengan bacaan itu, sebaliknya golongan yang tidak membaca qunut subuh beranggapan bahwa pilihannya itu tidak salah karena bukan termasuk rukun dan dalam beberapa keterangan statusnya juga sunnah.

Adanya perbedaan penafsiran tentang hukum membaca qunut subuh ini menjadi masalah klasik namun tetap urgen dalam setiap jaman. Padahal sesungguhnya dengan adanya pandangan yang meruncing tentang perbedaan membaca qunut  itu bisa jadi pintu masuk kelompok lain yang tidak senang apabila kaum muslim ini maju. Namun tetap saja disadari atau tidak, di dalam umat islam Indonesia sendiri, bacaan qunut menjadi masalah yang sangat sensitif.

Hukum Qunut Menurut madzhab


Secara garis besar terdapat empat madzhab yang membahas tentang hukum qunut, yaitu :

Madzhab Imam Abu Hanifah
Menurut Imam Abu Hanifah, hukum qunut adalah sunnah yang dilakukan ketika sedang shalat witir sebelum ruku. Namun di waktu shalat subuh, Imam Abu Hanifah menganggapnya bukan sunnah.

Jadi jika imam di depan tetap mengucapkan doa qunut, sebagai makmum kita hanya diam saja. Namun ada tokoh dari madzhab ini yang berpendapat bila imam mengucapkan qunut, makmumnya juga harus ikut mengucapkannya. Alasannya makmum harus selalu mengikuti imam.

Madzhab Imam Malik
Sedangkan menurut madzhab Imam Malik, hukum qunut itu adalah salah satu jenis ibadah yang disunnahkan ketika melaksanakan shalat subuh, dan paling utama diucapkan sebelum ruku. Namun bila ingin melakukan sesudahnya, hat tersebut juga diperbolehkan.
Hanya yang perlu diperhatikan adalah, menurut Imam Malik doa qunut dilakukan tanpa mengeraskan bacaannya. Jadi imam dan makmum mengucapkannya secara sendiri-sendiri dan diperbolehkan menaikkan tangan ketika melakukan kegiatan tersebut.

Madzhab Imam As-syafi’i ra
Hukum qunut menurut Imam As-syafi’i ra adalah sunnah dan bisa dilakukan dalam pelaksanaan shalat subuh ketika masuk pada rakaat kedua setelah ruku. Imam ketika mengucapkan doa qunut tersebut bisa dengan suara keras sampai pada lafaz dan diamini oleh makmum di belakangnya. Setelah itu ucapan doanya dipelankan ketika mulai masuk pada lafaz.

Ketika melakukan doa qunut ini juga disunnahkan untuk menaikan tangan namun tidak perlu mengusapkannya pada wajah ketika doa qunut selesai dibacakan.

Madzhab Ahmad Bin Hanbal
Menurut madzhab ini hukum qunut adalah salah satu bentuk amaliyah sunnah yang bisa dilakukan ketika melaksanakan witir yang dilakukan setelah ruku. Sedangkan ketika melakukan ibadah shalat subuh bukan merupakan sunnah.

Meskipun saat ini hukum qunut masih menjadi bahan pembicaraan dan menimbulkan perdebatan antara yang setuju dengan yang tidak setuju, namun semoga hal ini tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Semoga perbedaan pendapat yang ada tetap bisa menjadi rahmat bagi semua pemeluk agama Islam dimana pun berada. Amin.
qunut subuh

Hal yang perlu dipahami bahwa bacaan qunut subuh ini diperintahkan oleh Rasulullah SAW kepada kaum muslimin untuk dibaca pada keadaan genting, misalnya saat terjadi peperangan, serangan penyakit dan pembunuhan terhadap kaum muslim oleh kaum kafir.  Dengan demikian, bacaan qunut subuh ini dilakukan karena ada sebab dan tidak harus dilakukan setiap sholat fardhu. Kelompok yang meyakini pada asbabul nuzul hadits ini, merasa yakin bahwa bacaan qunut subuh hukumnya sunnah dan dilaksanakan dalam keadaan tertentu saja. Sementara itu pandangan kelompok yang meyakini bahwa membaca qunut subuh ini bagian dari tata cara pelaksanaan sholat shubuh, tentu saja meyakini bahwa tanpa bacaan qunut, membuat sholat subuh tidak syah.

Adapun makna dari bacaan qunut subuh adalah sebuah pengharapan atau doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT  atas perlindungan dan dijauhkan dari segala kejahatan serta bencana.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana mengetahui apa isi dari bacaan qunut subuh tersebut, dan hal ini bisa dilakukan tentu saja harus diartikan satu kata demi satu kata. Dengan kata lain tanpa mengetahui artinya, maka akan lebih banyak yang tersesat dan menyesatkan. Boleh jadi perbedaan yang selalu mencolok dan sangat sensitif dari pelaksanaan bacaan qunut subuh ini karena pada awalnya tidak dibekali pengetahuan yang baik tentang bahasa arab, sehingga tidak bisa menterjemahkan secara bahasa dan makna.

Demikianlah tentang masalah hukum qunut, mudah-mudahan saja bisa membuka cakrawala berpikir sehingga tidak terlibat dalam perdebatan yang sebenarnya tidak memberi dampak kebaikan apapun, sebaliknya justru selalu memperuncing perbedaan yang pada akhirnya semakin memperlebar jurang percekcokan.
LihatTutupKomentar
Cancel