Bagaimana Nikah Siri Menurut Hukum Islam

Nikah Siri - Banyaknya masyarakat pelaku nikah siri membuat pembahasan dan artikel-artikel mengenai nikah siri menurut hukum Islam sangat dicari, baik di dunia internet maupun di berbagai media massa dan buku. Berbagai pendapat tentang nikah siri menurut hukum Islam pun beredar, baik dari alim ulama, para petinggi negara, maupun pemerhati sosial sehingga masyarakat awam menjadi bingung. Masyarakat akhirnya menyimpulkan nikah siri secara sepihak, tidak mendefinisikan nikah sri menurut hukum Islam.
Nikah Siri
Kepada salah seorang teman yang kebetulan juga melakukan nikah siri, saya pernah bertanya kenapa ia sampai melakukan pernikahan secara siri. Padahal teman saya ini sewaktu itu belumlah memahami sepenuhnya nikah siri menurut hukum Islam itu seperti apa. Ternyata, alasan utamanya melakukan nikah siri kala itu adalah karena tidak direstui oleh orang tua hingga ia bersama pasangannya melarikan diri. Untuk menghindari dosa, ia menikah secara siri. Lalu bagaimana sebenarnya nikah siri menurut hukum Islam itu?

Nikah Siri Menurut Hukum Islam – Apakah Nikah Siri Itu Sebenarnya?


Pernikahan siri sering diartikan oleh masyarakat umum dengan pernikahan tanpa wali. Pernikahan semacam ini dilakukan secara rahasia (siri) dikarenakan pihak wali perempuan tidak setuju atau karena menganggap absah pernikahan tanpa wali atau hanya karena ingin memuaskan nafsu syahwat belaka tanpa mengindahkan lagi ketentuan-ketentuan syariat. Apakah memang seperti nikah siri menurut hukum islam?

Pernikahan siri juga diartikan sebagai pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan negara. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak mencatatkan pernikahannya di lembaga pencatatan sipil negara. Ada yang karena faktor biaya, alias tidak mampu membayar administrasi pencatatan,  ada pula yang disebabkan karena takut ketahuan melanggar aturan yang melarang pegawai negeri nikah lebih dari satu, dan lain sebagainya.

Pernikahan siri dapat pula diartikan sebagai pernikahan yang dirahasiakan karena pertimbangan-pertimbangan tertentu, misalnya karena takut mendapatkan stigma negatif dari masyarakat yang terlanjur menganggap tabu pernikahan siri  atau karena pertimbangan-pertimbangan rumit yang memaksa seseorang untuk merahasiakan pernikahannya. Lalu apakah memang seperti itu halnya nikah siri menuru hukum Islam? Namun terlepas dari nikah siri menurut hukum Islam, di masyarakat juga lebih mengetahui nikah siri sebagai berikut:
  1. Pernikahan yang tidak dihadiri oleh orang tua kedua belah pihak, atau salah satu pihak (pernikahan tanpa wali).
  2. Pernikahan siri ini adalah pernikahan yang sah di mata agama (Islam), namun tidak tercatat dalam lembaga negara. Tidak tercatat di Pengadilan Agama, tidak tercatat pula di Pencatatan Sipil atau KUA (Kantor Urusan Agama). Alasan untuk tidak mencatatkan pernikahannya pada lembaga bisa karena tidak mampu membayar biaya administrasi yang cukup mahal untuk mencatatkan pernikahannya pada lembaga negara.
  3. Pernikahan siri juga dapat diartikan sebagai pernikahan yang dirahasiakan. Ada pertimbangan-pertimbangan yang mengikuti keputusan untuk menikah secara sembunyi-sembunyi ini, misalnya pandangan negatif masyarakat terhadap pernikahan campuran dua suku yang berbeda.

Nikah Siri Menurut Hukum Islam – Dampak Pernikahan Secara Siri


Kita bisa melihat dampak dari nikah siri ini jika kita sudah mengetahui penjelasan hukum-hukum nikah siri menurut hukum Islam berdasarkan dari beberapa pengertian nikah siri yang telah di uraikan di atas. Nikah siri menurut Islam bisa kita bahas melakui hukum pernikahan siri yang tanpa wali nikah. Sebenarnya Islam telah melarang seorang wanita menikah tanpa wali. Ketentuan semacam ini didasarkan pada sebuah hadits yang dituturkan dari sahabat Abu Musa ra., bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali” (HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy, lihat, Imam Asy Syaukani, Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2648)

Berdasarkan dalalah al-iqtidla’, kata ”laa” pada hadits menunjukkan pengertian ‘tidak sah’, bukan sekedar ’tidak sempurna’ sebagaimana pendapat sebagian ahli fikih. Makna semacam ini dipertegas dan diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah Saw pernah bersabda:

Wanita mana pun yang menikah tanpa mendapat izin walinya, maka pernikahannya batil; pernikahannya batil; pernikahannya batil”. [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. Lihat, Imam Asy Syaukaniy, Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2649].

Abu Hurayrah ra. juga meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

Seorang wanita tidak boleh menikahkan wanita lainnya. Seorang wanita juga tidak berhak menikahkan dirinya sendiri. Sebab, sesungguhnya wanita pezina itu adalah (seorang wanita) yang menikahkan dirinya sendiri”. (HR Ibn Majah dan Ad Daruquthniy. Lihat, Imam Asy Syaukaniy, Nailul Authar VI: 231 hadits ke 2649)

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapatlah disimpulkan bahwa pernikahan tanpa wali adalah pernikahan batil. Pelakunya telah melakukan maksiat kepada Allah Swt, dan berhak mendapatkan sanksi di dunia. Hanya saja, syariat belum menetapkan bentuk dan kadar sanksi bagi orang-orang yang terlibat dalam pernikahan tanpa wali. Oleh karena itu, kasus pernikahan tanpa wali dimasukkan ke dalam bab ta’zir, dan keputusan mengenai bentuk dan kadar sanksinya diserahkan sepenuhnya kepada seorang qadliy atau hakim.

Baca juga: Pengertian Mualaf dan Hak Mereka dalam Islam

Mau tahu apa saja dampak dari nikah siri ini, meskipun ada yang berdalih melakukan nikah siri menurut hukumIslam? Berikut ini bisa Anda lihat apa saja dampak nikah siri itu:
  1. Jika suatu saat terjadi persengketaan dalam pernikahan, pihak perempuan akan sangat dirugikan karena pihak perempuan selaku istri tidak dapat menuntut haknya serta tidak akan mendapatkan warisan apapun ketika suami telah meninggal dunia.
  2. Dalam pernikahan siri, pihak perempuan rentan terhadap tindakan kekerasan dalam rumah tangga karena kewajiban suami dianggap kewajiban semu saja dan tidak ada hukum yang mampu mengikat kewajiban-kewajiban, baik suami maupun istri, dalam pernikahan siri.
  3. Tidak adanya surat nikah sehingga masyarakat akan meragukan pernikahan mereka dan dianggap sebagai pasangan kumpul kebo (berzina).
  4. Permasalahan utama akan muncul ketika pasangan nikah siri memiliki anak. Anak dalam pernikahan siri ini akan kesulitan memiliki surat-surat identitas kelahirannya dan akan kesulitan ketika saatnya pendaftaran sekolah.

Nikah Siri Menurut Hukum Islam

Nikah Siri menurut islam
Nikah siri menurut hukum Islam tetaplah sah menurut ketentuan syariat. Para pelaku nikah siri tidak bisa dituduhkan sebagai pelaku tidak asusila atau kriminal sehingga layak mendapatkan hukum negara atau dijatuhi sanksi hukum.

Suatu perbuatan baru dianggap asusila dan pantas diberikan hukuman dunia dan akhirat jika perbuatan itu adalah pekerjaan-pekerjaan yang diharamkan dalam agama Islam dan tindakan-tindakan yang meninggalkan kewajiban. Dari aspek pernikahannya, nikah siri tetap sah menurut ketentuan syariat nikah siri menurut hukum Islam, dan pelakunya tidak boleh dianggap melakukan tindak kemaksiyatan, sehingga berhak dijatuhi sanksi hukum.

Pasalnya, suatu perbuatan baru dianggap kemaksiatan dan berhak dijatuhi sanksi di dunia dan di akherat, ketika perbuatan tersebut terkategori ”mengerjakan yang haram” dan ”meninggalkan yang wajib”. Seseorang baru absah dinyatakan melakukan kemaksiyatan ketika ia telah mengerjakan perbuatan yang haram, atau meninggalkan kewajiban yang telah ditetapkan oleh syariat.

Begitu pula orang yang meninggalkan atau mengerjakan perbuatan-perbuatan yang berhukum sunnah, mubah, dan makruh, maka orang tersebut tidak boleh dinyatakan telah melakukan kemaksiyatan; sehingga berhak mendapatkan sanksi di dunia maupun di akhirat. Untuk itu, seorang qadliy atau hakim tidak boleh menjatuhkan sanksi kepada orang-orang yang meninggalkan perbuatan sunnah, dan mubah; atau mengerjakan perbuatan mubah atau makruh.

Seseorang baru berhak dijatuhi sanksi hukum di dunia ketika orang tersebut; pertama, meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan sholat, jihad, dan lain sebagainya; kedua, mengerjakan tindak haram, seperti minum khamer dan mencaci Rasulullah Saw, dan lain sebagainya; ketiga, melanggar aturan-aturan administrasi negara, seperti melanggar peraturan lalu lintas, perijinan mendirikan bangunan, dan aturan-aturan lain yang telah ditetapkan oleh negara.

Artikel menarik lainnya: Memahami Pengertian Hadits Shahih

Berdasarkan keterangan dapat disimpulkan; pernikahan yang tidak dicatatkan di lembaga pencatatan negara tidak boleh dianggap sebagai tindakan kriminal sehingga pelakunya berhak mendapatkan dosa dan sanksi di dunia. Pasalnya, pernikahan yang ia lakukan telah memenuhi rukun-rukun pernikahan yang digariskan oleh Allah Swt. Adapun rukun-rukun pernikahan adalah sebagai berikut:
  • Wali
  • Dua orang saksi
  • Ijab qabul

Jika tiga hal ini telah dipenuhi, maka pernikahan seseorang dianggap sah secara syariat walaupun tidak dicatatkan dalam pencatatan sipil.

Sebagai umat muslim kita sebaiknya lebih berhati-hati dengan nikah siri ini. Kita harus memahami betul-betul bagaimana nikah siri menurut hukum Islam itu supaya kita tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang dikira halal, padahal ternyata membawa kemudaratan.
LihatTutupKomentar
Cancel