Memahami Pengertian Hadits Shahih

Pengertian Hadits Shahih - Hadits merupakan sabda (perkataan), perilaku, ketetapan, dan persetujuan Nabi Muhammad Saw yang dijadikan sebagai dasar hukum dalam syariat islam. Hadist adalah sumber hukum kedua dalam islam setelah Al quran. Karenanya, mempelajari ilmu hadist merupakan salah satu cara untuk mengenal hukum islam dengan lebih baik.
Pengertian Hadits Shahih

Dalam islam kita mengenal beberapa tingkatan kepercayaan sebuah hadis. Tingkatan tertinggi adalah hadist shahih sementara tingkatan terendah adalah hadist palsu. Hadist palsu tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam islam. Sementara hadist shahih adalah hadist yang diakui dan dijadikan sebagai hujjah dalam syariat islam.

Pengertian Hadist Shahih


Secara bahasa ‘shahih’ diartikan sebagai ‘orang sehat’. Lawan katanya adalah as-saqim yang artinya orang sakit. Jadi, secara bahasa hadist shahis bisa artinya adalah hadist yang benar, sehat dan tidak penyakit dan cacat padanya. Hadist shahih juga bisa diartika sebagai hadist yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh orang-orang yang kuat daya ingatnya, adil, dan jujur, serta selamat dari cacat dan kejanggalan.

Beberapa ulama memberikan definisi yang tidak jauh berbeda. Seperti Imam As Suyuti secara ringkas mendefenisikan hadist shahih sebagai ‘hadist yang tidak terputus sanadnya, diriwayatkan oleh periwayat hadist (perowi) yang terkenal adil dan kuat daya ingatnya, serta terhindar dari kejanggalan dan kecacatan.

Imam Syafi’I memberikan dua pijakan dalam mengenali suatu hadist shahih atau tidak, yaitu:

1. Dilihat dari kredibilitas perowinya

Hadist shohih haruslah diriwayatkan oleh seorang atau lebih perowi hadist yang memiliki kriteria berikut:
  • Memiliki pengamalan agama yang baik.
  • Dikenal sebagai orang yang jujur.
  • Memahami isi hadist yang diriwayatkannya dengan baik.
  • Bisa mengetahui perubahan arti hadist jika terjadi perubahan lafaznya.
  • Mampu meriwayatkan hadist secara lafaz.
  • Memiliki hafalan yang terpelihara jika meriwayatkan hadist secara lafaz.
  • Bunyi hadist yang diriwayatkannya sama dengan bunyi hadist yang diriwayatkan oleh orang lain dan terhindar dari kecacatan.
2. Dilihat dari sanadnya

Dilihat dari sanadnya, hadist shahih haruslah memiliki sanad yang tersambung (tidak putus) hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW atau bisa juga tidak sampai kepada Nabi SAW. Sementara itu, imam ahli hadist terkemuka Imam Bukhori dan Imam Muslim memberikan beberapa kriteria hadist shahih, yaitu:

Pertama: Sanadnya harus tersambung -tidak terputus- dari perowi pertama hingga ke perowi terakhir.
Kedua: Para perowinya haruslah dikenal sebagai orang yang adil dan terpercaya.
Ketiga: Hadistnya harus terhindar dari kejanggalan dan kecacatan.
Keempat: Para perowi terdekat dalam sanad hadist tersebut harus sezaman.

Kriteria Hadist Shahih

Mencermati beberapa pengertian hadist shahih di atas, bisa disimpulkan bahwa sebuah hadist layak mendapat prediket shahih apabila ia memenuhi beberapa kriteria atau persyaratan. Nah, apa saja kriteria sebuah hadist dikatakan shahih? Di sini bisa dirumuskan beberapa kriteria hadist shahih, yaitu:

1. Memiliki sanad yang bersambung

Maksudnya di sini adalah, setiap perowi dari perowi lainnya yang tercatat menyampaikan hadist tersebut secara berantai benar-benar mengambil secara langsung lafaz hadist tersebut dari perowi yang ditanyanya, dari awal hingga akhir sanad. Tentunya, yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah bagaimana cara untuk mengetahui sanad suatu hadist bersambung atau tidak?

Untuk mengetahui status sanad suatu hadist bersambung atau tidak, para ulama hadist menempuh beberapa langkah berikut:
  • Mendata semua perowi dengan teliti.
  • Mempelajari karakter dan riwayat hidup tiap-tiap perowi untuk mengetahui kredibilitas dirinya.
  • Meneliti kata-kata yang berkaitan antara para perowi yang terdekat dalam sanad.
2. Perawinya dikenal bersifat Adil

Kriteria dasar yang harus dimiliki oleh seorang perowi hadist adalah:
  • Muslim,
  • Mukallaf (baligh),
  • Tidak fasiq,
  • Dikenal berperilaku baik, dan terakhir,
  • Dikenal bersifat adil.

Untuk menilai seorang perawi bersifat adil atau tidak, bisa dilakukan dengan salah satu dari beberapa teknik berikut:

Pertama: Dari keterangan seseorangan atau beberapa ulama ahli ta’dil yang menyetakan bahwa ia (perowi) itu bersifat adil. Seperti yang diterangkan dalam kitab-kitab jahr wa at-ta’dil.

Kedua: Ketenaran seseorang tersebut di masyarakat bahwa ia dikenal sebagai orang yang adil. Seperti imam yang empat (Hanafi, Maliki, Asy-Syafi’I dan Hambali).

Ketiga: Secara khusus, untuk perawi hadist yang berada pada tingkat sahabat, mayoritas ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil.

3. Perowinya adalah orang-orang yang bersifat dhobit (kuat daya ingatnya)

Perowi hadist adalah orang-orang yang sempurna dan baik daya ingatnya. Baik daya ingat yang tersimpan dalam dada, maupun dalam kitab. Daya ingat dalam dada maksudnya ialah terjaganya periwayatan hadist tersebut dalam ingatan. Dari ia menerima hadist hingga hadist tersebut diriwayatkan atau disampaikan pada orang lain. Sementara daya ingat dalam kitab maksudnya adalah terjaganya kebenaran periwayatan suatu hadist dalam bentuk tulisan.

Bagaimana mengetahui sifat kedhobitan seorang perowi hadist? Sifat kedhobitan perawi hadist bisa diketahui dengan beberapa cara, antara lain:
  • Kesaksian para ulama
  • Kesesuaian riwayat yang disampaikannya dengan riwayat dari orang lain yang sudah lebih dahulu dikenal kedhobitannya.
4. Tidak janggal

Tidak janggal di sini maksudnya adalah hadist tersebut dari segi isi tidak janggal, tidak bertentangan ataupun menyelisihi pendapat orang-orang terpercaya lainnya.

5. Tidak cacat

Maksudnya di sini adalah tidak ada kecacatan dalam hadist tersebut baik dari sisi sanad maupun matan hadistnya. Tidak cacat di sini bisa juga diartikan sebagai tidak adanya hal-hal tersembunyi yang mungkin menciderai ke-shahih-an hadist tersebut, serta secara dhahir hadist tersebut selamat dari cacat.

Kecacatan pada hadist mungkin terjadi pada sanad atau matan, atau kedua-duanya sekaligus. Namun demikian, kecacatan yang paling umum terjadi adalah kecacatan pada sanad.

Tingkatan Hadist Shahih

Tingkat keshahihan sebuah hadist sangat ditentukan oleh dua hal yaitu: tingkat kedhobitan (kekuatan daya ingat) dan keadilan perowinya. Berdasarkan dua kriteria ini, para ahli hadist kemudian membagi tingkatan sanad hadist menjadi tiga tingkatan:

1. Ashah Al-asanid

Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi derajat sanadnya. Contohnya: periwayatan sanad hadis dari Imam Malik bin Anas dari Nafi’ mawla dari Ibnu Umar.

2. Ahsan Al-asanid

Ahsan Al-asanid adalah tingkatan sanad hadis kedua, satu tingkat lebih rendah dari ashah al-asanid. Contohnya; periwayatan sanad dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas.

3. Ad’af Al-asanid

Ini merupakan sanad hadist yang paling rendah tingkatannya dari yang lain. Contohnya; periwayatan sanad dari Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah.

Sementara itu, berdasarkan terpenuhinya persyaratan hadist shahih di atas, hadist dibedakan menjadi 7 tingkatan, yaitu:

Hadist Riwayat  Bukhari dan Muslim (Muttafaq ‘alaih).
Hadist Riwayat Imam Bukhari.
Hadist Riwayat Imam Muslim.
Hadist Riwayat orang lain dan memenuhi kriteria Bukhari dan Muslim.
Hadist Riwayat orang lain dan memenuhi kriteria Bukhari.
Hadist Riwayat orang lain dan memenuhi kriteria Muslim.
Hadist Riwayat orang lain, dinilai shahih oleh ulama hadist selain Imam Bukhari dan Muslim, namun tidak sesuai dengan kriteria Bukhari Muslim. Misalnya Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah dan lainnya.

Pengertian hadist shahih berikut penjelasannya bisa Anda pelajari lebih lanjut dalam ilmu hadist. Baik melalui buku-buku hadist atau belajar langsung pada ahlinya. Artikel ini hanya memberikan penjelasan ringkas tentang hadist shahih, pengertian dan penjelasannya. Semoga bermanfaat.
LihatTutupKomentar
Cancel