Mengenal Seluk-Beluk Pengertian Bid'ah

Pengertian Bid'ah - Dalam ajaran agama Islam ada kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu beribadah. Beribadah merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, terutama ibadah yang wajib hukumnya. Dalam hal ibadah ada ibadah wajib dan ada ibadah sunnah, nah ibadah wajib sudah jelas ketentuannya, sedangkan ibadah sunnah terkadang masih ada yang sufatnya samar-samar, apakah boleh atau tidak dikerjakan.
Pengertian Bid'ah
Segala perbuatan yang tidak dilandasi oleh firman Allah Swt dan sunnah Rasul dipandang sebagai ibadah yang tidak ada dalilnya. Dengan kata lain, ibadah yang diadakan oleh kita. Ibadah dan perbuatan dianggap baik yang belum jelas ketentuanya berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasul dikatakan dengan bid’ah. Apa pengertian bid’ah itu? Berikut kita akan lihat bagaimana ragam seluk-beluk pengertian bid’ah.

Pengertian Bid’ah Berdasarkan Al-Qur’an


Para ahli telah banyak mendefisinikan pengertian bid’ah meskipun terjadi perbedaan lafalnya yang kemudian menyebabkan perbedaan cakupan pada bagian-bagian pengertian bid’ah tersebut, tetapi tujuan akhir dari pengertian bid’ah tersebut adalah sama. Jika di tinjau dari sudut pandang bahasa, bid’ah adalah diambil dari kata bida’ yaitu al ikhtira, mengadakan sesuatu tanpa adanya contoh sebelumnya. Seperti yang termaktub dalam Kitab Shahih Muslim bi Syarah Imam Nawawi dijelaskan sebagai berikut:

 “Dan yang dimaksud bid’ah, berkata ahli bahasa, dia ialah segala sesuatu amalan tanpa contoh yang terlebih dahulu”

Sedangkan jika ditujukan dalam hal ibadah pengertian bid’ah tersebut diantaranya:

Bid’ah adalah suatu jalan yang diada-adakan dalam agama yang dimaksudkan untuk ta’abudi, bertentangan dengan al Kitab (al qur`an), As Sunnah dan ijma’ umat terdahulu“.

Bid’ah adalah kebalikannya dari sunnah, dan dia itu apa-apa yang bertentangan dengan Al-Qur`an, as sunnah, dan ijma’ umat terdahulu, baik keyakinnanya atau peribadahannya, atau dia itu bermakna lebih umum yaitu apa-apa yang tidak di syari’atkan Allah dalam agama. Maka segala dari sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah maka yang demikian adalah bid’ah.

Pengertian bid’ah dalam syari’ah adalah apa yang diada-adakan yang tidak ada perintah Rasulullah shalallahu ta’ala ‘alaihi sallam. Dan dari al Harawi bahwa bid’ah ialah pendapat pikiran yang tidak ada padanya dari kitab (al Qur`an) dan as Sunnah.

Ibnu Hajar al As Qalani dalam Fathul Bari menjelaskan, “Dan yang dimaksud dengan sabdanya, “Setiap bid’ah adalah sesat” yakni apa yang diadakan dan tanpa dalil padanya dari syari’at baik dengan jalan khusus maupun umum”. Berikut pengertian bid’ah dari para ulama:

Ibnu Taimiyah mengatakan pengertian bid’ah dalam agama ialah sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan rasul-Nya yaitu tidak diperintahkan dengan perintah wajib atau perintah sunnah. Adapun yang diperintahkan dengan perintah wajib dan sunnah serta diketahui perintah-perintah tersebut dengan dalil-dalil syar’i, maka hal itu termasuk yang disyari’atkan oleh Allah, meskipun terjadi perselisihan diantara ulama di beberapa masalah dan sama saja, baik hal itu sudah diamalkan pada masa Rasulullah atau tidak.

As-Syahtibi mengatakan bid’ah adalah suatu cara di dalam agama yang diada-adakan (baru) menyerupai agama dan dimaksudkan dalam melakukannya untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah ta’ala.

Ibnu Rajab mengatakan, yang dimaksudkan dengan bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa ada dasarnya di dalam syari’at. Adapun suatu yang ada dasarnya dalam syara’, maka bukan bid’ah meskipun dikatakan bid’ah menurut bahasa.’

As-Suyuti mengatakan pengertian bid’ah ialah suatu ungkapan tentang perbuatan yang bertentangan dengan syari’at karena menyelisihinya atau perbuatan yang menjadikan adanya penambahan dan pengurangan syari’at.

Macam-Macam Bid’ah


Selain pengertian bid’ah yang harus kita ketahui, supaya tidak terjebak dengan tindakan bid’ah, sebaiknya kita juga mengetahui apa saja macam-macam bid’ah itu. Berikut beberapa macam bid’ah yang harus diketahui:

Bid’ah Wajibah.
Bid’ah Wajiban adalah bid’ah yang dilakukan untuk mewujudkan hal-hal yang diwajibkan oleh syara’. Seperti mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah dan lain-lain. Sebab, hanya dengan ilmu-ilmu inilah seseorang dapat memahami Al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw secara sempurna.

Bid’ah Muharramah.
Bid’ah Muharramah adalah bid’ah yang bertentangan dengan syara’. Seperti madzhab Jabariyyaah dan Murji’ah.

Bid’ah Mandubah.
Bid’ah Mandubah adalah segala sesuatu yang baik, tapi tak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw. Misalnya, shalat tarawih secara berjamaah, mendirikan madrasah dan pesantren.

Bid’ah Makruhah.
Bid’ah Makruhan seperti menghiasi masjid dengan hiasan yang berlebihan.

Bid’ah Mubahah.
Bid’ah Mubahah seperti berjabatan tangan setelah shalat dan makan makanan yang lezat (Qawa’id al-Ahkam Fi Mashalih al-Anam, Juz, 1 hal, 173)

Maka tidak heran jika sejak dahulu para ulama telah membagi bid’ah menjadi dua bagian besar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syafi’I RA yang dikutip dalam kitab Fath al-Bari:

“Sesuatu yang diada – adakan itu ada dua macam. (Pertama), sesuatu yang baru itu menyalahi al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, Atsar sahabat atau Ijma’ulama. Ini disebut dengan bid’ah dhalal (sesat). Dan (kedua, jika) sesuatu yang baru tersebut termasuk kebajikan yang tidak menyalahi sedikitpun dari hal itu (al-Qur’an, al-Sunnah dan Ijma’). Maka perbuatan tersebut tergolong perbuatan baru yang tidak dicela”. (Fath al-Bari, juz XVII, hal 10)

Syaikh Nabil Husaini menjelaskan sebagai berikut:

Para ahli ilmu telah membahas persoalan ini kemudian membaginya menjadi dua bagian. Yakni bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Yang dimaksud dengan bid’ah hasanah adalah perbuatan yang sesuai kepada kitab Allah Swt dan sunnah Rasulullah Saw. Keberadaan bid’ah hasanah ini masuk dalam bingkai sabda nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Siapa saja yang membuat sunnah yang baik (Sunnah hasanah) dalam agama Islam, maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan tersebut serta pahala dari orang-orang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barang siapa yang merintis sunnah jelek (sunnah sayyiah), maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan itu dan dosa-dosa yang setelahnya yang meniru perbuatan tersebut, tanpa sedikitpun mengurangi dosa-dosa mereka”.

Dan juga berdasarkan hadist shahih yang mauquf, yakni ucapan Abdullah bin Mas’ud Ra ,”Setiap sesuatu yang dianggap baik oleh semua muslim, maka perbuatan tersebut baik menurut Allah Swt, dan semua perkara yang dianggap buruk orang-orang Islam, maka menurut Allah SWT perbuatan itu juga buruk”. Hadist ini dishahihkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam al-Amah” (al-Bid’ah al-Hasanah, wa Ashluha min al-Kitab wa al-Sunnah, 28).

Dari uraian diatas maka secara umum bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

1. Bid’ah Hasanah

Bid’ah Hasanah adalah bid’ah yang tidak dilarang dalam agama karena mengandung unsur yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Masuk dalam kategori ini adalah bid’ah wajibah, mandubah, dan mubahah. Dalam konteks inilah perkataan sayyidina Umar bin Khattab RA tentang jama’ah shalat tarawih yang beliau laksanakan:

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini (yakni shalat tarawih dengan berjama’ah)”. (Al-Muaththa’ [231]

Contoh, bid’ah Hasanah adalah khutbah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, membuka suatu acara dengan membaca basmalah di bawah seorang komando, memberi nama pengajian dengan istilah kuah dhliah shubuh, pengajian ahad atau titian senja.

Selain itu juga termasuk bid’ah Hasanah adalah menambah bacaan subhanahu wa ta’ala yang diringkas menjadi Swt, setiap ada kalimat Allah, dan subhanahu alaihi wasallam (yang diringkas Saw) setiap ada kata Muhammad. Serta perbuatan lainnya yang belum pernah ada pada masa Rasulullah Saw, namun tidak bertentangan dengan inti ajaran agam,a Islam.

2. Bid’ah Sayy’ah

Bid’ah Sayy’ah adalah bid’ah yang mengandung unsur negatif dan dapat merusak ajaran dan norma agama Islam. Bid’ah muharramah dan makruhah dapat digolongkan pada bagian yang kedua ini. Inilah yang dimaksud oleh sabda Nabi Muhammad Saw:

“Dari ‘A’isyah Ra, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melakukan suatu yang tiada perintah kami atasnya, maka amal itu ditolak”. (HR. Muslim: 243)

Dengan adanya pembagian ini, dapat disimpulakan bahwa tidak semua bid’ah itu dilarang dalam agama. Sebab yang tidak diperkenankan adalah perbuatan yang dikhawatirkan akan menghancurkan sendi -sendi agama Islam. Sedangkan amaliyah yang akan menambah syi’ar dan daya tarik agama Islam tidak dilarang.

Bahkan untuk saat ini, sudah waktunya umat Islam lebih kreatif untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan zaman yang makin kompleks, sehingga agama Islam akan selalu relevan di setiap waktu dan tempat.

Itulah pengertian bid’ah dan macam-macam bid’ah yang penting untuk kita ketahui. Siapa yang tidak mau mengharapkan pahala dari ibadah yang dilakukannya? Jika begitu sebaiknya hindari ibadah yang termasuk dalam bid’ah.
LihatTutupKomentar
Cancel