Abu Bakar Ash-Shiddiq, Sang Khulafaur Rasyidin Pertama

Abu Bakar Ash-Shiddiq, Sang Khulafaur Rasyidin Pertama - Kata khulafaur rasyidin berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata khulafa dan ar-rasyidin. Khulafa menunjukkan banyak khalifah, sedangkan kata khalifah berarti pemimpin. Ar-rasyidin artinya yang diberi petunjuk. Jadi, khulafaur rasyidin artinya pemimpin yang diberi petunjuk.

Sepeninggal Nabi Muhammad saw. pada 632 M, 11 tahun setelah hijrah, bangku kepemimpinan diserahkan kepada Khulafaur Rasyidin. Mereka adalah empat khalifah pertama agama Islam. Mereka dipercaya oleh umat Islam sebagai pemangku kepemimpinan Rasulullah Muhammad saw. setelah beliau mangkat.

Tugas-tugas para khalifah ini sangat berat, diantaranya mencegah adanya perpecahan dalam tubuh Islam dan mencegah kekacauan lainnya, memberantas nabi-nabi palsu dan tetap menegakkan syiar agama Islam sebagaimana mestinya.

Para khalifah ini juga dikenal sebagai para sahabat dekat Nabi yang sangat setia mendampingi dan melindungi beliau dalam keadaan bagaimana pun. Empat khalifah pertama, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Selain menjadi sahabat paling setia Nabi Muhammad saw., Abu Bakar juga seorang khalifah pertama. Berikut kisahnya:

Abu Bakar As-Shiddiq


Abu bakar merupakan khalifah yang pertama yang menggantikan kedudukan Rasul sebagai pemimpin setelah beliau wafat. Selain menjadi sahabat terdekat Nabi, Abu bakar juga menjadi ayah mertua Nabi Muhammad saw. setelah menikahkan putrinya, Siti Aisyah, dengan Nabi.
Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar lahir pada tahun 573 dan wafat pada tahun 634 M. Beliau menjadi khalifah pertama dalam rentang tahun 632-634 M. Berdasarkan beberapa sumber, Abu Bakar lahir dua tahun setelah kelahiran Nabi. Mungkin banyak yang belum mengetahui, bahwa nama asli dari Abu Bakar adalah Abdullah bin Abi Kuhafah.

Nama Abu bakar merupakan gelar yang diberikan masyarakat muslim kepadanya. Sementara, Ash-Shiddiq merupakan gelar yang diberikan oleh Rasulullah karena beliau adalah orang yang pertama kali membenarkan dan mempercayai bahwa Nabi benar-benar mengalami Israk Mikraj.                                                                       

Karena kedekatan Abu Bakar dengan Nabi, beliaulah yang menemani Nabi Hijrah ke Yatsrib. Sebelum memeluk islam, Abu Bakar adalah seorang pimpinan di suku Quraisy. Namun, setelah memeluk islam, Abu Bakarlah yang selalu di depan membela dan melindungi Rasulullah meskipun harus melawan sukunya sendiri.                                                         

Ketika Nabi sedang sakit dan tidak dapat menjadi imam salat, Abu Bakar yang menggantikannya. Hal ini yang menyebabkan kursi kekhalifahan pertama dipegang olehnya. Umat menganggap bahwa Abu Bakarlah yang saat itu amat dipercaya oleh Nabi sebagai Khulafaur Rasyidin yang pertama.

Selama menjadi khalifah, berbagai langkah telah diambil Abu Bakar, yaitu:
-    memberantas para nabi palsu,
-    memberantas kaum murtad,
-    menghadapi orang-orang yang ingkar membayar zakat,
-    mengumpulkan Alquran.

Pada masa kepemimpinan Abu Bakar, kaum muslimin mengalami kemajuan pesat di bidang sosial, budaya, serta penegakan hukum. Dalam hal perluasan wilayah, Abu bakar berhasil memperluas daerah hingga Persia, sebagian Jazirah Arab hingga sebagian daerah kekaisaran Bizantium.                                                                                                     
Abu Bakar menjadi khalifah hanya selama dua tahun. Selama masa kepemimpinan yang sempit ini, Abu Bakar berusaha menyatukan Islam kembali karena banyak suku-suku yang tidak mau tunduk setelah Nabi wafat. Suku-suku tersebut menganggap perjanjian mereka terdahulu dengan Rasul telah batal setelah Rasul wafat.                                                             

Karena tidak mau lagi tunduk pada syariat Islam, Abu Bakar memerangi mereka dengan maksud memerangi kemurtadan mereka. Oleh karena itulah perang ini dikenal dengan sebutan Perang Riddah yang berarti perang melawan kemurtadan.

Saat itu, panglima yang dipercaya memimpin pasukan dalam perang ini adalah Khalid ibn Al-Walid. Karena kegigihannya dalam berjuang, ia pulang dengan membawa kemenangan di tangan.                                                                   
Untuk kesekian kalinya, Khalid ibn Walid mendapat kepercayaan Sang Khalifah Abu Bakar untuk memimpin perang di luar Arab, yaitu Irak, pada tahun 634 M dan berhasil menguasainya.                                                                                           
Dalam pengumpulan Al-Quran (karena dulu masih berupa tulisan pada tulang, kulit, dan sebagainya), Abu Bakar meminta Umar bin Khattab yang akan menjadi khalifah berikutnya untuk mengumpulkannya.                                                                               
Abu Bakar Ash-Shiddiq

Umar bin Khattab lantas menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai kepala pembukuan Al-Quran. Sebagaimana diketahui, dalam perang Riddah banyak penghafal Al-Quran yang gugur, Abu Bakar khawatir akan semakin banyak penyelewengan yang terjadi akibat berkurangnya para penghafal Al-Quran.

Setelah selesai dibukukan, Abu Bakar menyerahkannya kepada salah satu istri Nabi Muhammad bernama Hafsah. Hafsah merupakan anak Umar bin Khattab. Pada masa Khalifah Ustman Bin Affan, penulisan Al-Quran disempurnakan. Al-Quran inilah yang menjadi induk penulisan teks Al-Quran yang tersebar di seluruh dunia.

Abu Bakar dikenal sebagai seorang muslim yang rela menyerahkan apa saja kepunyaannya demi tegaknya agama Islam. Beliau menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan islam termasuk dengan membebaskan para budak dari tuannya.

Salah satu hakikat Islam diturunkan ialah untuk menghapus perbudakan. Dalam catatan sejarah, Abu Bakar berhasil membebaskan beberapa orang budak. Harta dan tempat usaha yang dimilikinya habis untuk perjuangan Islam semata.

Sungguh perbuatan berani yang jarang dilakukan pemimpin untuk para bawahannya saat ini yang rela hidup sederhana meskipun ia adalah seorang pemimpin besar.

Cerminan sikapnya yang baik sudah terlihat bahkan sejak ia belum memeluk agama Islam. Ia tidak suka ikut berpesta pora, mabuk, berjudi, serta berzina selayaknya kaum Quraisy pada masa itu. Padahal, Abu Bakar merupakan keluarga bangsawan yang hidup berkecukupan. Namun, ia merupakan pria yang lembut dan bersih dari perbuatan jahiliah.

Daripada bergaul dengan orang-orang yang tenggelam dalam budaya jahiliah, ia lebih suka bergaul dengan orang-orang yang ahli dalam kitab suci pada masa itu. Ia bahkan tidak pernah menyembah berhala seperti kebanyakan orang, meskipun Islam belum lahir kala itu.

Ia juga pandai berdagang sehingga ia terkenal sebagai saudagar kaya. Meskipun ia berharta, namun tidak mencegah dirinya untuk bersikap ramah, rendah hati, jujur, suka menolong, mudah bergaul, dan dapat dipercaya. Karena sifat-sifat terpuji inilah banyak orang yang suka bekerja sama dengannya.

Ada satu cerita menarik mengenai sifat cinta Abu Bakar kepada Rasulullah. Pernah suatu ketika Rasul dikejar-kejar hendak dibunuh karena menyebarkan agama Islam. Mengetahui hal itu, Abu Bakar segera menyelamatkan Rasul dengan mengajaknya bersembunyi di dalam gua.

Karena kelelahan, Rasul akhirnya tertidur di pangkuan Abu Bakar. Tiba-tiba ada seekor ular menggigit kaki Abu Bakar, namun ia diam saja karena tidak tega membangunkan Nabi dan Rasul terakhir itu. Baginda Rasul heran ketika Abu Bakar berjalan dengan pincang dan beliau terharu begitu mengetahui pengorbanan Abu Bakar untuk Nabi.

Sebagai seorang Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar Ash-Shidiq memang telah membuktikan bahwa dirinya memang pantas menyandang gelar tersebut. Seorang yang tanpa pamrih menjaga dan melindungi Rasul, menemani ke mana pun, disenangi kawan dan disegani lawan, berkepribadian lembut, jujur, santun, serta rela berkorban demi tegaknya Islam.

Kejernihan pikirannya tercermin tatkala ia memandang bahwa menyembah berhala merupakan suatu kebodohan dan kesia-siaan. Sepeninggal Abu Bakar, kursi kekhalifahan dipegang oleh Umar bin Khattab, Utsman Bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib yang mempunyai kisah yang tidak kalah menarik dan penuh suri teladan.
LihatTutupKomentar
Cancel